Sejarah kelahiran Nabi Muhammad yang diabadikan, terkait erat dengan peristiwa penyerangan Abrahah bin Al-Asyram (si Muka Belah) dengan menggunakan pasukan gajah untuk menghancurkan Ka'bah di Mekkah. Tahun penyerangan tersebut kemudian dikenal dengan "tahun gajah" ('amul fiil) yang bertepatan dengan kalender Islam, yaitu bulan Rabi'ul Awwal.
Abrahah merupakan penguasa Habasyah (Yaman) yang dikuasainya melalu jalan perebutan kekuasaan dengan penguasa sebelumnya bernama Aryath yang mati terbunuh karena berduel dengan Abrahah. Menurut catatan sejarah Ibnu Ishaq, kemarahan Abrahah untuk menghancurkan Ka'bah, tersulut akibat orang-orang Arab yang menolak melakukan ibadah haji ke Habasyah, bahkan terdapat peristiwa sebelumnya, dimana salah satu orang Arab justru mengotori kesucian tempat ibadah yang dibangun Abrahah.
Peristiwa Abrahah dan pasukan gajah-nya memang melekat dalam ingatan sejarah umat muslim sebagai sebuah peristiwa penting, dimana sebuah tempat suci---yaitu Ka'bah---yang berada di Mekkah, merupakan "simbol perdamaian" yang tak mungkin dapat dikotori terlebih dihancurkan oleh siapapun dengan tujuan perang atau pertumpahan darah.
Penting untuk diingat, bahwa Mekkah yang pada waktu itu dibawah kepemimpinan Suku Quraisy dengan Abdul Mutholib sebagai figur pemimpinnya, merupakan kelompok kecil, lemah yang tak mungkin nekat melawan kekuasaan Abrahah. Salah satu semangat yang menguatkan Abdul Muthalib saat itu hanya "kepasrahan total" kepada Tuhan, memohon perlindungan-Nya atas segala sesuatu yang akan terjadi. Doa nampaknya menjadi senjata utama kaum Quraisy untuk melawan kekuatan pasukan bergajah Abrahah.
Peristiwa kelahiran Nabi Muhammad pada bulan Rabi'ul Awwal, memperlihatkan sebuah peristiwa penting, terkait dengan proses "kedamaian" dan hancurnya keserakahan dan kesewenang-wenangan manusia atas kooptasi sebuah "peribadatan" dan simbol kesucian. Keinginan Abrahah menghancurkan Ka'bah, tentu saja merupakan upaya dirinya agar umat manusia pada waktu itu tak lagi beribadah haji mengunjungi Ka'bah, tetapi mendatangi Habasyi karena telah disediakan sebuah gereja yang paling besar pada zamannya yang dibangun Abrahah yg dinamakan gereja al qalis dan sampai hari ini puing puing gereja al qalis tersebut masih ada di yaman dijadikan monumen kehancuran raja kristen yang arogan. Sebuah kalimat perdamaian juga diselipkan dalam peristiwa sejarah ini, ketika Nufail bin Habib Al-Khats'ami membisikan sesuatu ke telinga Mamut ("Mahmud" nama gajah dalam versi Arab), "Menderumlah wahai Mahmud, atau pulanglah dengan damai ke tempat dimana engkau berasal, karena sesungguhnya engkau saat ini berada di negeri Haram" (Ibnu Ishaq: Sirah Nabawiyah).
Peristiwa mundurnya pasukan gajah dan kehancuran Abrahah kemudian diabadikan dalam Al-Quran, sebagai pengingat akan pentingnya kenikmatan Tuhan yang dianugerahkan kepada manusia seraya menggambarkan runtuhnya sebuah egoisme, keserakahan dan kesewenang-wenangan manusia yang ditunjukkan oleh sikap Abrahah.
"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)." (QS. Al Fiil: 1-5).